Kesalahan No 2 Dalam Berinvestasi Properti – Jangan Beli Pakai Emosi

Setelah Anda mempelajari tentang Kesalahan No 1 dalam Berinvestasi Properti, maka kali ini saya ingin menjelaskan kesalahan no 2 dalam berinvestasi properti yang juga biasanya sering dilakukan pemula atau orang yang  awam dalam melakukan investasi properti.

Saya akan menjelaskan kesalahan no 2 ini dalam bentuk cerita nyata yang memang saya alami sendiri…

Sesaat setelah lulus kuliah, di penghujung tahun 1994 bersama-sama dengan ibu, saya mengendarai sepeda motor menuju sebuah lokasi perbukitan di kawasan Bandung utara.

Sebuah kawasan yang saat itu masih merupakan ladang palawija dan kebun sayur mayur penduduk desa sekitar, sekaligus juga sebuah kawasan dengan pemandangan kota Bandung yang sangat indah sekali.  Apalagi kala malam hari cahaya cahaya lampu kota Bandung begitu indahnya gemerlapan di kejauhan.

Dengan pemandangan yang indah,udara yang masih sangat sejuk, lokasi yang sepi dan tenang, sekaligus hijaunya ladang serta hutan pinus di dekat lokasi serta gemericiknya air sungai kecil di samping lokasi kami berhenti istirahat saat itu, membuat saya dan ibu saya sangat menikmatinya.

Tiba tiba ada seorang penduduk desa yang menghampiri kami, dan menyapa “Bapak mau beli tanah disini? Kalau mau saya bisa carikan dan tunjukkan lokasi-lokasinya”

Wah serasa dapat durian runtuh kami saat itu senangnya disapa serta ditawari untuk membeli tanah oleh bapak tua itu.

Singkat cerita, akhirnya saya bersama dengan ibu saya membeli tanah kebun seluas lebih kurang 2000-an meter persegi, walaupun dengan menguras semua tabungan kami saat itu, ditambah dengan hasil penjualan motor yang saya kendarai selama saya kuliah.

Tetapi rasanya bangga dan senang sekali bisa membeli tanah bersama ibu saya dengan pemandangan indah kota Bandung, udara sejuk, disamping hutan pinus dan sungai kecil mengalir jernih.

Oh ya, yang lebih menyenangkan lagi, karena kami bisa membeli tanah itu dengan cara mengangsur pada pemilih tanahnya selama 2 tahun.

Dua tahun berlalu akhirnya tanah tersebut lunas dan sertifikatnya pun terbit atas nama kami. Itulah pengalaman saya pertama kalinya “berinvestasi” properti.

Betapa senang dan bangganya saya kala itu setelah berhasil memiliki tanah tersebut. Awalnya setiap kali ada waktu kami berkunjung menengok tanah tersebut, dan silaturahmi dengan si bapak tua “makelar” yang membantu kami menemukan tanah tersebut.

Tetapi rasa senang dan bangga tersebut dengan cepat sirna dan berganti dengan kewajiban bayar PBB tiap tahunnya. dan karena di tahun 1995 saya mulai hijrah dan kerja di Jakarta, jadi tiap kali pulang ke Bandung, saya jadi punya “kewajiban” bersama ibu saya yang selalu mengajak menengok tanah kami tersebut. Padahal tanahnya setiap kali ditengok juga gitu gitu saja, masih tetap disitu sih belum pindah juga…hahahaha

Rasa senang dan bangga diawal, berubah menjadi “beban kewajiban” baik dalam perasaan maupun secara keuangan. Selain karena beban PBB yang setiap tahunnya harus dibayar ditambah lagi biaya perawatan, uang penjaga terkadang juga perbaikan jalan yang diminta oleh penduduk.

Belum lagi biaya jantung deg deg-an kami, setiap kali bersepeda motor menengok lokasi tanah, karena jalanan yang sebagian masih tanah dan di beberapa bagian tanjakannya sangat terjal sehingga pernah satu ketika saya dan ibu saya sampai terjatuh tertimpa sepeda motor karena tidak kuat nanjak dan terlambat ganti gigi motornya…..hahahaha

Akhirnya beberapa tahun kemudian, kami memutuskan untuk menjual saja tanah itu agar tidak membebani pikiran kami. Kami berusaha menjualnya melalui iklan koran, titip jual ke penduduk sekitar, titip jual ke kantor kantor agen properti, menawarkan ke saudara serta teman teman.

Dan akhirnya tanah tersebut baru bisa laku terjual setelah hampir 20 tahun kemudian, ya benar teman teman 20 tahun kemudian tanah tersebut baru berhasil terjual….hahahaha

Keuntungan dari hasil penjualan tanah tersebut, yang saat itu sempat saya hitung akan sangat jauh berbeda hasilnya, jika dibandingkan apabila nilai uang yang sama, kami belikan properti lainnya di kota. Belum lagi bila properti di kota tersebut kami sewa sewakan, sehingga keuntungan dari uang sewapun bisa kami nikmati, selama kami belum berniat menjual propertinya.

Jadi pada intinya kami telah salah berinvestasi di lokasi tanah tersebut.

Teman teman, kisah pengalaman saya bersama ibu saya “berinvestasi” di tanah itu adalah salah satu contoh pengalaman yang serupa dengan banyak orang awam atau pemula dalam berinvestasi properti, yaitu membeli properti dengan emosi.

Kenapa saya sebut pengalaman tersebut sebagai membeli properti dengan emosi???

Karena keputusan kami membeli saat itu, sama sekali tidak rasional. Keputusan kami membeli tanah itu, semata mata hanya berdasarkan ikut-ikutan paman saya yang membeli beberapa bidang tanah di daerah itu untuk “investasi”.

Ditambah info gosip dari si bapak tua, bahwa sudah ada pengembang besar di dekat situ yang sedang membebaskan hektaran lahan untuk dibangun villa-villa mewah. Plus kami merasa pemandangannya indah, ada hutan pinus serta terdengar gemericik air sungai.

Yang kenyataannya, setelah ditunggu bertahun-tahun, “si pengembang” yang diceritakan tidak kelihatan batang hidung ataupun aktivitas membangunnya.

Suasana asri juga menghilang  karena hutan pinus di sebelah lahan, hilang lenyap ditebang seluruhnya oleh si pemilik lahan. Suara gemericik airpun hanya ada di musim hujan saja, selebihnya tak ada suara air, karena sungainya kering tak ada air mengalir, tak ada suara burung karena hutan pinusnya sudah hilang…..hahahahaha

Andaikan saja nilai uang yang sama saat itu, kami belikan properti di tengah kota, mungkin ceritanya akan sangat berbeda. Keuntungan yang jauh lebih besar bisa kami peroleh dan “kesabaran” menunggu sampai terjual selama 20 tahun pun tidak perlu harus kami jalani.

Itulah yang banyak terjadi di orang awam, mereka melakukan Kesalahan No 2 ini yaitu  Bertransaksi Dengan Emosi.

Padahal aturan utama dalam membeli atau berinvestasi properti adalah:

“JANGAN PAKAI EMOSI”

Jadi ingatlah bahwa saat emosi kita bermain, maka nalar kita, logika kita, pikiran rasional kita tidak bisa berfungsi dengan baik lagi.

Jangan sampai Anda terjebak di sebuah ‘investasi’ akibat emosi yang bermain. Karena hanya akan ada kerugian yang Anda alami.

Salam Sukses Berkelimpahan,

Joe Hartanto

Joe Hartanto